10 Mukjizat Nabi Muhammad Saw. yang Menakjubkan

Kamu suka nulis cerpen? Kamu juga suka denngan pelestarian hutan dan lingkungan? Lomba menulis ini cocok banget buat kamu!

Senja si Kelabang Nyebrang

Sabeni si Kelabang Nyebrang harus menghadapi Murtado si Macan Kemayoran untuk mendapatkan Khadijah. Apakah Sabeni bisa mengalahkan palang pintu Khadijah itu?

Selepas Wisuda

Setelah wisuda apa? Puisi tentang mahasiswa yang baru menjalani prosesi wisuda

Sri Ayati, Perempuan dalam Sajak Chairil Anwar

Sajak Chairil Anwar yang berjudul Senja di Pelabuhan Kecil ternyata ....

Citraan dalam Puisi Penyair Beken

Citra merupakan sarana puitik yang sering dipakai penulis puisi dan prosa, nih. Sebagai penulis, kamu perlu mengenal jenis-jenis citraan, biar tulisanmu makin oke.

Lomba Menulis untuk Peci

Indiva, penerbit buku Islam yang ada di Solo mengadakan lomba menulis cerpen untuk anak usia 13 tahun ke bawah. Simak deh informasi di bawah ini.

Pujangga Baru

Salah satu majalah sastra yang terkenal adalah Pujangga Baru. Ternyata sejarah penerbitan majalah itu sangat panjang. Mau tahu? Baca saja artikelnya.

Jurnalisme Sastrawi

Gay Talese menulis laporan berjudul “Joe Louis : the King as a Middle-aged Man” di majalah Esquire, tahun 1962.

Monday, August 29, 2016

BUKAN ISA BUKAN LAZARUS

ilustrasi (http://tourdebali.com/)
bau mayat di jalan bunga
tapi pak mentri bilang, mayat
sudah sehat walafiat
wanginya bunga tujuh rupa
semerbak dari gedung berlantai tiga
ada yang tanam teru menyan
di tumpukan laporan keuangan
mayat-mayat bergelimpangan
di bawah teru menyan
menunggu untuk dikuburkan
tapi pak menteri bilang, mayat
sudah sehat walafiat
di akhir masa jabatan ia
menjelma isa yang bangunkan
lazarus dari kematian
tapi ia bukan isa dan
lazarus tetap mayat
terkubur dalam gedung
berlantai tiga
di jalan bunga


tarikolot, 29/08/2014

Tuesday, July 26, 2016

Heboh Kasus Plagiasi

cerpen Renny di Majalah Story
Selasa, 26 Juli 2016, saya menemukan postingan mantan redaktur Majalah Story, Mbak Erin atau Reni TerataiAir di linimasa FB saya. Dalam postingannya itu, Mbak Erin menampilkan dua foto cerpen dari majalah Story dan lembaran koran. Cerpen di majalah Story berjudul "AL" karya Renny Chrisnawaty dan cerpen  berjudul "Black Hole" karya Nanda Dyani Amilla. Kedua cerpen itu memiliki kesamaan. Hanya judul dan nama penulisnya saja yang berbeda. Kamu bisa melihatnya di sini https://www.facebook.com/Lidyarennych/posts/557224571152408.

cerpen Nanda
Kasus ini menjadi heboh karena rupanya, pembaca majalah Story yang disebut Storylover cukup loyal. Meski majalah itu sudah wafat beberapa tahun yang lalu, mereka masih memiliki ingatan yang lumayan kuat terhadap cerpen-cerpen yang pernah muncul di sana.

Setelah saya share kasus ini di dinding FB saya, seorang teman dari FLP membagikan link ini di dindingnya https://www.facebook.com/notes/sian-hwa/menggugat-orisinalitas-cerpen-lilin-merah-di-belakang-meja-mahyong-karya-guntur-/608564539299404 sambil mempertanyakan, "Udah baca yg ini? Plagiat dr Guntur Alam dimuat di kompas Kok gk seheboh yg skrg ya?". Kemudian, seorang teman bernama Aveus Har men-tag saya di boks komentar link tersebut. Belakangan, Dae Akhi Dirman Al-Aminteman saya itu juga membagikan link itu di salah satu status saya. Dalam gugatannya, Sian Hwa menganggap Guntur Alam memplagiasi novel Amy Tan.

Saya tidak tahu apa maksud kedua teman saya itu membicarakan kasus lama yang saya sendiri sempat mengikutinya? Apakah mereka ingin saya menguggat Guntur Alam? Bukan kah sudah ada yang melakukannya? Untuk apa saya membicarakan kasus yang lama?

Pertanyaan lainnya, apakah benar kasus Guntur itu tidak seheboh kasus Nanda? Atau penilaian "tidak heboh" itu hanya prasangka saja? Sekarang kita coba menjawabnya dengan sebuah parameter yang lebih jelas. Sampai saya menulis catatan ini, postingan Mbak Erin sudah dibagikan sebanyak 111 kali, dikomentari 141 kali, dan disukai 391 orang. Sementara itu, postingan Sian Hwa dibagikan sebanyak 246 kali, dikomentari 43 kali, dan disukai 80 orang. Jika kita perhatikan angka-angka tersebut, kedua kasus itu sama hebohnya. 

Kasus yang menimpa Nanda menurut saya tidak sama dengan kasus Guntur. Apa yang dilakukan oleh Guntur masih diperdebatkan. Ada yang menganggapnya plagiasi dan ada yang menganggapnya terinspirasi. Saya sendiri, saat itu, tidak berani memberikan penilaian karena saya belum membaca novel Amy Tan dan belum membaca cerpen Guntur yang diduga hasil plagiasi. Sementara itu, apa yang dilakukan Nanda hanya copy-paste cerpen Renny dan mengganti judul serta nama penulisnya. Siapa pun bisa langsung menilai bahwa cerpen tersebut hasil plagiasi. Tidak ada perdebatan soal itu. Perbedaan lainnya, Guntur digugat oleh Sian Hwa, bukan Amy Tan. Sementara itu, Nanda langsung digugat oleh penulis cerpen aslinya dan redaktur mantan majalah Story yang memuat cerpen Renny.

Jauh sebelum Sian Hwa menggugat Guntur Alam, saya sendiri pernah menggugat cerpen Mahmudi Arif D. Cerpen itu berjudul "Dongeng Penunggu Surau". Saya membaca cerpen itu di buku Air Kaldera karya Joni Ariadinata. Kalau Nanda masih berusaha menyamarkan hasil plagiasinya dengan mengganti judul cerpen aslinya, Arif tidak mengubah judul cerpen itu sama sekali.

Saya sempat bertanya kepada Joni Ariadinata, apakah ia memiliki nama pena Mahmudi Arif D? Ia menjawab tidak. Saya mengabarkan plagiasi yang dilakukan Mahmudi itu kepada Mas Joni, tapi Mas Joni hanya menanggapinya sebagai hal yang biasa. Menurutnya, hal itu membuktikan bahwa cerpennya cukup berhasil sehingga ada yang memplagiasinya. Komentar semacam ini sempat saya baca juga di postingan Renny. Kemudian, saya mengirimkan link cerpen Arif yang berjudul "Dongeng Penunggu Surau" terbit di Batam Pos, 8 Juli 2007 kepada Mas Joni. Penulis asal Jogja itu sempat terkejut. Namun, tidak ada reaksi apa pun setelah keterkejutan itu.

Saya sempat juga mengirim pesan ke sriti.com (saya baca cerpen Arif di web tersebut). Saya menanyakan, apakah Arif nama lain Joni Admin sriti.com sempat menanggapi pesan saya tersebut sebagaimana screenshot di bawah ini. Sayangnya, setelah tanggapan itu, tidak ada klarifikasi lain. 



Waktu itu, FB dan Twiter belum ada. Jadi, saya menggunakan sarana mailinglist atau grup email. Posting saya tersebut masih bisa ditelusuri hingga sekarang. Sila klik link ini http://sastra-pembebasan.10929.n7.nabble.com/sastra-pembebasan-Sebuah-PLAGIAT-Gila-gilaan-atau-td13909.html. Tak ada yang menanggapi posting saya kecuali Yonathan Rahardjo dengan tanggapan yang jujur saya tidak paham apa maksudnya.



Ketika saya posting di grup Komunitas Pasar Buku, ada tanggapan dari akun Buku Baru. Tanggapannya bisa kamu baca di screenshot di bawah ini atau link ini https://beta.groups.yahoo.com/neo/groups/pasarbuku/conversations/topics/43906.



Sampai hari ini, kasus cerpen "Dongeng Penunggu Surau" tidak pernah diketahui pasti. Apakah cerpen yang dimuat di Batam Pos 8 Juli 2007 itu merupakan kasus plagiasi yang dilakukan oleh Mahmud Arif D atau kesalahan pencantuman nama penulis oleh redaksi Batam Pos? Hanya Allah, redaktur Batam Pos (th. 2007), dan Arif saja yang mengetahuinya. Sampai hari ini, saya berusaha untuk berbaik sangka, pemunculan cerpen "Dongeng Penunggu Surau" di Batam Pos dengan nama penulis Mahmudi Arif D. hanyalah kesalahan teknis saja (semoga demikian).

Cerpen Mahmudi Arif D. bisa kamu lihat di bawah ini.

http://www.slideshare.net/andrigoodwood/dongeng-penunggu-surau-mahmudi-arif-d
Cerpen Joni Ariadinata bisa kamu lihat di sini.

http://simanuda.blogspot.co.id/2014/11/dongeng-penunggu-surau.html
Dari berbagai kasus plagiasi, saya menyimpulkan. Plagiasi akan terus terjadi, selama penulis tidak pernah mengambil tindakan hukum. Saya sendiri agak meragukan ada penulis yang mau melakukannya. Kebanyakan penulis malas bersentuhan dengan pengadilan. Selain itu, sebagai penulis, rasanya mereka tidak akan tega membawa penulis lainnya ke meja hijau. Jika saya dalam posisi penulis yang diplagiasi, boleh jadi, saya memilih untuk tidak membawanya ke meja hijau. Apa boleh buat, saya memang tidak tegaan orangnya.

Wednesday, July 13, 2016

Menyontek Cerdas

foto dari techtunix.blogspot.com
Saya dapat istilah menyontek cerdas dari guru saya, Prof. Maman S Mahayana. Bagaimana praktiknya? Kira-kira begini.

Teks sumber saya ambil dari wikipedia.


Pada awal penemuannya, olahraga permainan bola voli ini diberi nama Mintonette. Olahraga Mintonette ini pertama kali ditemukan oleh seorang Instruktur pendidikan jasmani (Director of Phsycal Education) yang bernama William G. Morgan di YMCA pada tanggal 9 Februari 1895, di Holyoke, Massachusetts (Amerika Serikat).

Teks hasil menyontek.


Tanggal 9 Februari 1895 menjadi hari yang penting bagi olahraga bola voli. Pada hari itu, seorang instruktur pendidikan jasmani (Director of Phsycal Education) di YMCA, Holyoke, Massachusetts, Amerika Serikan menemukan olahraga permainan tersebut. William G. Morgan, nama istruktur tersebut, menamakannya Mintonette sebelum menjadi Volly Ball sebagaimana yang kita kenal sekarang.

Kamu bisa menemukan perbedaannya? Hampir seluruh informasi yang terdapat pada teks sumber berhasil dipindahkan dalam teks hasil sontekan. Boleh dibilang, deep structure-nya sama, alias tidak ada beda. Namun, struktur paragraf dan kalimatnya sangat berbeda, alias surface structurenya berbeda. Beginilah cara menyontek yang cerdas.

Kalau ada menyontek cerdas, pasti ada menyontek tak cerdas. Bagaimana kah contoh menyontek tak cerdas? Langsung saja lihat contoh di bawah ini.

Teks sumber saya ambil dari wikipedia.


Perubahan nama Mintonette menjadi volleyball (bola voli) terjadi pada tahun 1896, pada demonstrasi pertandingan pertamanya di International YMCA Training School. Pada awal tahun 1896 tersebut, Dr. Luther Halsey Gulick (Director of the Professional Physical Education Training School sekaligus sebagai Executive Director of Department of Physical Education of the International Committee of YMCA) mengundang dan meminta Morgan untuk mendemonstrasikan permainan baru yang telah ia ciptakan di stadion kampus yang baru.

Teks hasil menyontek.


Perubahan nama Mintonette menjadi volleyball (bola voli) terjadi pada tahun 1896, pada demonstrasi pertandingan pertamanya di International YMCA Training School. Pada awal tahun 1896 tersebut, Dr. Luther Halsey Gulick (Director of the Professional Physical Education Training School sekaligus sebagai Executive Director of Department of Physical Education of the International Committee of YMCA) mengundang dan meminta Morgan untuk mendemonstrasikan permainan baru yang telah ia ciptakan di stadion kampus yang baru.

Apakah kamu bisa menemukan perbedaannya? Tidak ada beda? Tunggu dulu! Teks hasil menyontek itu saya ambil dari situs lain, bukan dari wikipedia dengan nama penulis berinisial SN. Dalam artikel di situs tersebut, penulis tidak menyantumkan sumber wikipedia.

Saya sih tidak suka menyebutnya menyontek tak cerdas. Menurut saya, setakcerdas apa pun orang menyontek, pasti ia berusaha untuk membuat teks itu tidak begitu saja dikenali orang. Oleh sebab itu, saya lebih suka menyebut tindakan copas sebagai meminjam tak cerdas. Demikian.

Tipe Penulis Seperti Tipe Pengontrak Rumah

foto by http://humapictures.com

Dalam puisi "Rumah Kontrakan" yag dipersembahkan untuk Sapardi Djoko Damono, Jokpin menganalogikan proses menulis seperti mengontrak rumah. Menurut saya, ada 3 tipe pengontrak.

1. Pengontrak Kreatif

Pengontrak tipe ini, suka sekali menghias-hias rumah kontrakan. Saking rajinnya menghiasi rumah kontrakan, sampai-sampai pemilik rumah kontrakan tidak lagi mengenali rumahnya sendiri sebagaimana orang-orang tidak lagi bisa mengenali karya-karya Sapardi dalam karya-karya Jokpin. Biasanya, pengontrak tipe ini akan segera berubah jadi pemilik rumah.


2. Pengontrak Abadi

Pengontrak tipe ini sadar betul bahwa rumah yang ditinggali bukan miliknya. Jadi, ia malas menghias-hias rumah itu. Dibiarkannya saja rumah itu sebagaimana adanya. Tipe pengontrak ini seperti penulis ghost writer. Dia dibayar untuk menuliskan ide milik orang lain. Kadang-kadang, harus mengikuti gaya tulisan orang yang membayarnya. Pengontrak tipe ini akan terus-terusan menjadi pengontrak.

3. Pengontrak Kurang Ajar

Pengontrak tipe ini makin banyak sejak akses internet semakin mudah dan murah. Biasanya, tipe pengontrak ini tidak malu mengakui rumah kontrakannya sebagai rumahnya sendiri, padahal orang-orang juga tahu itu bukan rumahnya. Dia seperti penulis copas yang tidak malu-malu mencantumkan namanya di tulisan milik orang lain.

Saya sih percaya, kamu termasuk tipe yang pertama atau yang kedua, bukan tipe yang ketiga. Pada hakikatnnya, semua pemilik rumah bermula dari pengontrak koo, kecuali dia dapat rumah warisan. Meski rumah warisan itu sudah jadi miliknya, tetap saja orang-orang akan mengenali rumah itu sebagai rumah bapak atau ibunya. Jadi, selamat mengontrak!

Monday, July 11, 2016

Masjid Sunyi di Kota Santri

ilustrasi pintu masjid terkunci (ahloo.com)

di kota santri
masjid merasa sunyi
terkurung sendiri
dalam ruang sepi
orangorang menziarahi
tapi pintupintu terkunci
di kota santri
azan bicara sendiri
menghibur diri
dan masjid sunyi

Jombang, 9/7/2016