Mata Syahla


Oleh Denny P

Nama kami Bola Mata, dia Bola Mata Kiri dan aku Bola Mata Kanan. Namun, orang-orang lebih mengenal kami sebagai Mata saja. Jadi, panggil saja kami Mata Syahla karena kami tinggal di rongga mata Syahla.

Syahla? Siapa dia?

Dia anak perempuan lucu berusia 6 tahun. Kami merasa beruntung tinggal di rongga matanya yang besar. Soalnya, kami jadi terlihat bulat dan indah. Banyak, loh, orang yang mengagumi Syahla karena matanya.

Syahla sekolah di SD Pemuda Bangsa, di salah satu sudut Nusantara yang bernama Depok. Ia baru kelas satu, tapi punya rasa ingin tahu yang tinggi sekali.

Suatu hari, syahla bertanya kepada ibunya, “Ibu, kenapa kita bisa melihat?”

Ibunya malah balik bertanya, “Menurut Syahla, kenapa kita bisa melihat?”

Syahla, gadis kecil yang lucu itu tampak berpikir. Tidak berapa lama, matanya berbinar.

“Aku tahu, Bu! Kita bisa melihat karena kita punya mata,” kata Syahla sambil menunjuk kami.

“Anak yang pintar!” puji ibunya sambil mencubit lembut hidung Syahla yang mancung. Setelah itu, ibunya beranjak dari tempat tidur.

Tiba-tiba, Ibu menekan saklar. Lampu kamar mati. Kamar menjadi gelap gulita.

“Ibu,” teriak Syahla, “kenapa lampunya dimatikan? Syahla jadi enggak bisa lihat apa-apa.”

Ibu menyalakan lampu kembali. Ruang kamar menjadi terang.

“Kenapa Syahla tidak bisa melihat?” tanya Ibu. “Bukannya mata Syahla masih ada ditempatnya?”

Syahla meraba kami. Masih ada, bisiknya.

“Kenapa Syahla tidak bisa melihat, ya, Bu?” gadis kecil itu malah balik bertanya.

“Karena lampunya Ibu matikan,” jawab ibunya.

“Ih, Ibu,” rajuk Syahla, “kalau itu aku tahu. Maksudku, kenapa kalau lampu dimatikan aku enggak bisa melihat?”

Ibunya tersenyum. Kemudian berkata, “Kalau lampu dimatikan, di kamar ini tidak ada cahaya.”

“Oh, Syahla tahu!” potongnya. “Mata kita bisa melihat kalau ada cahaya, kan, Bu?”

“Seratus buat Syahla!”

Suatu hari, ada virus yang menyerang kami. Virus itu membuat kami gatal-gatal. Syahla jadi suka mengusap-usap kami. Virus itu juga menyebabkan kami memerah dan membengkak. Akibatnya, kami jadi sering mengeluarkan kotoran. Mereka menyebut kotoran itu sebagai belek.

“Bu, mata Syahla sakit,” katanya, “Syahla enggak bisa lihat apa-apa,”

Ibu memeriksa mata Syahla yang bengkak dan mereh.

“Kita periksa ke dokter, ya?” pinta ibunya. Syahla mengangguk.

Setelah beberapa hari diberi obat, virus itu akhirnya mati. Kami tidak legi merah dan bengkak. Syahla kembali bisa melihat.

“Ternyata,” kata Syahla kepada ibunya, “untuk melihat kita butuh mata dan cahaya, ya, Bu.”

Ibunya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Share on Google Plus

About Denny Prabowo

Penulis, penyunting, penata letak, pedagang pakaian, dokumentator karya FLP, dan sederet identitas lain bisa dilekatkan kepadanya. Pernah bekerja sebagai Asisten Manajer Buku Sastra di Balai Pustaka. Pernah belajar di jurusan sastra Indonesia Unpak. Denny bisa dihubungi di e-mail sastradenny@gmail.com.

0 ulasan:

Catat Ulasan

Tinggalkan jejak sobat di sini