Love Messages #4

Oleh De Zha Voe


“Kerrr... ck,ck,ck... kerrr... ck,ck,ck...”

Suiiiinnngggg...

Pruk!

“Adow!” Argi melonjak kaget. Sebuah majalah mendarat tepat di kepalanya. “Woi! Kalo ngelempar liat-liat dong!”

“Sori, Neng!” jawab tukang majalah sambil lalu.

Delon, Ayam jago piaraan Argi jadi shock. Gara-garanya, setelah majalah itu mengenai kepala Argi, majalah itu mampir juga di kepala Delon, yang sedang asyik matok-matokin makanan di telapak tangan Argi. Delon kocar-kacir muter-muter pekarangan. Terbang-terbangan, sebelum nemplok di pagar rumah dan ngacir keluar.

Argi segera memburunya. “Delon tunggu! Jangan tinggalkan aku!”

Arga keluar dari dalam rumah dengan secangkir kopi hangat di tangannya. Dia meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Nguap sebentar. Matanya menubruk majalah Komo Girl Yang jadi biang keladi pelarian Delon terkapar di atas permadani rumput gajah halaman depan rumahnya. Arga memungutnya. Nangkring di atas kursi bambu, menyeruput kopi hangat, sambil baca majalah.

Tak berapa lama Argi kembali bersama Delon di gendongannya. Setelah putar-putar gang rumahnya, Delon berhasil juga ditangkap Argi dengan sukarela. Itu pun setelah Argi teriak-teriak membujuk mau ngenalin Delon sama Joy, ayam betina milik tetangga sebelah rumahnya.

“Sopan dong!” tegur Argi waktu melihat majalah Komo Girl miliknya dibaca Arga. “Yang punya aja belom baca!”

“Ada telepon, noh!” kata Arga, matanya gak lepas dari lembar majalah.

“Buat gue?”

“Buat siapa, kek,” jawab Arga seenaknya, “Buruan, udah dari tadi tuh!”

“Dari?”

“Dari tadi!”

“Yee! Gue tau,” Argi gak kalah sewot, “Maksud gue dari siapa?!”

Arga hanya mengangkat bahu.

“Huh!” Argi merengus. Sebelum masuk ke dalam rumah dia menyempatkan untuk melabuhkan jitakan di jidat Arga.

“Awas lo ye!” Arga misuh-misuh.

Sampai di ruang tengah tempat telepon dipajang, Argi melihat Bunda sedang menerima telepon.

“Sini, Bunda.” Argi merebut gagang telepon dari tangan Bunda, Bunda berusaha mempertahankannya.

“Kamu apaan sih?!”

“Idih Bunda, teleponnya kan buat Argi!”

“Sembarangan kamu!” Akhirnya Bunda berhasil merebut gagang telepon dari tangan Argi, “Maaf ya, Jeng Kok... anak saya emang suka jail!”

Argi mengerutkan kening. “Bukannya telepon buat Argi?”

“Bukan!” jelas Bunda setengah berbisik, “Udah sana jangan ganggu!”

Kurang ajar si Arga!

Argi kembali ke teras depan menemui Arga dengan kedua tangan terkepal, siap melakukan gempuran udara ke kening Arga yang mirip lapangan bola.

“Elo iseng banget sih, ngerjain orang!” semprot Argi, “Hampir aja gue dipecat jadi anak sama Bunda!”

“Iseng gimana?”

“Kata lo ada telepon?!”

“Emang ada.”

“Mana?”

Arga berdiri dari kursinya, menyeret tangan Argi kembali ke ruang tengah. Bunda sudah selesai menerima telepon.

“Ini apa?” Arga menunjuk telepon yang berbaring manis di atas meja kayu kecil.

“Telepon.”

“Mata lo ditaro di mana sih? Telepon segede gini gak ngeliat!”

Argi garuk-garuk kepala. Bingung dengan maksud perkataan Arga.

“Duh... yang bego gue apa elo sih? Gue jadi bingung gini...”

“Tadi gue bilang apa?”

“Ada telepon, noh!” Argi mengulangi ucapan Arga, di teras depan rumah, selepas dia berhasil membujuk Delon untuk kembali.

“Nah, ini apa?”

“Telepon.”

“Gue gak bohong kan?”

Argi makin gak mengerti. Arga ketawa-ketawa dalam hati, lalu ngeloyor pergi ninggalin Argi yang rambutnya makin acak-acakan digaruk-garukin karena bingung.

“Selamat mikir deh!”

“Arga!”

***

Ringtone ponsel Arga mengudara, saat ia baru saja menggelar tikar sajadah. Ada SMS masuk. Lelaki Terindah? Dia beranjak meninggalkan kamarnya, pergi ke kamar Argi di sebelah.

Dug! Dug! Dug!

“Argi!” panggil Arga.

Dug! Dug! Dug!

“Argi!” volume suaranya bertambah keras.

Argi membuka pintu kamarnya. Matanya setengah terpejam. Maklum saja, sudah tengah malam. Waktunya orang-orang tenggelam dalam selimut mimpi. Menerjemahkan yang tak terjemahkan dalam kehidupan sehari-hari dalam dunia mimpi. Dan Arga baru saja sukses mengobrak-abrik alur cerita dalam mimpi Argi.

“Jam di kamar lo mati ya?!” sungut Argi, “Tengah malam gedor-gedor kamar orang!”
Arga hanya tersenyum melihat sepetak liur yang mengerak di pipi Argi, menyerahkan ponselnya kepada Argi. “Ada SMS!”

“Elo bangunin gue malem-malem cuma buat bacain SMS doang?!”

“Jangan sewot dulu,” Arga menenangkan, “Baca dulu SMS-nya.”

Argi membuang matanya ke layar ponsel milik Arga. Membaca kalimat yang ada di sana. Matanya berbinar waktu melihat nama pengirimnya.


kau bgai darah ygmeriak di sungai venakumembuat jntungku berdtaktiap kali mengingat wjhmu
Sender: +62815693142Sent: 26 May 2005 02:35:14

“Duh... romantis banget sih!” gumam Argi girang.

Arga berbalik, bermaksud kembali ke kamarnya. Argi menghentikan langkah Argi tepat di saat dia berada di ambang pintu.

“Thanks ya, Ga!”

Arga tersenyum, “Tadi aja, marah-marah.”

“Sori deh,” mohon Argi, “elo belom tidur, Ga?”

“Baru aja bangun.”

“Mau ngapain bangun tengah malam gini?”

“Mau ngobrol.”

“Ngobrol sama siapa? Sama kuntilanak?”

“Sembarangan lo!” ujar Arga, “Udah ah, gue mau tahajud dulu!”

Ooo... ngobrol sama Tuhan. Diam-diam dia menyimpan kekaguman pada saudara kembarnya itu. Biarpun penampilan luarnya ancur-ancuran, bahkan lebih mirip anak berandalan dari pada anak sekolahan, tapi tidak pernah Argi melihat Arga ninggalin shalat. Argi meringis. Malu. Jangankan tahajud, yang lima waktu aja mirip saringan ikan, alias bolong-bolong!

Argi beranjak ke kamar, naik kembali ke atas ranjang tidurnya, melanjutkan mimpi indah yang terpenggal sebab Arga mengedor-gedor pintu kamarnya.

Oh, Lelaki Terindah... Argi senyum-senyum sendiri, sebelum matanya kembali memejam dan bermimpi bertemu dengan lelaki yang selalu mengiriminya kata-kata cinta: Lelaki Terindah.

***

“Gawat Nih!”

Sudah setengah jam lebih Arga berdiri di tepi jalan, mengacungkan tangannya, menyetop angkot-angkot jurusan terminal. Tapi gak satu pun dari angkot-angkot itu yang sudi berhenti, dan membiar kan Arga naik ke dalamnya. Bukan karena merasa alergi sama Arga. Tapi angkot-angkot itu malas membawa penumpang ke terminal. Saban Senin, trayek yang menuju terminal luar biasa padat!

Tigapuluh menit lagi bel tanda dimulainya kegiatan belajar mengajar SMU Merah Jambu dibunyikan. Arga gak mau usaha belajarnya semalaman jadi berantakan, gara-gara dia terlambat dan harus mengerjakan soal di depan kelas, seperti tempo hari, waktu jam pelajarannya Pak Saragih.

Memang sih, Bu Nita, guru matematika gak segalak Pak Saragih. Baik hati malah.

“Yah, asal jangan terlambat pas dia lagi datang bulan aja!” jelas Tami, keponakan Bu Nita, teman satu sekolah Arga, cuma lain kelas aja, waktu dia muji-muji kebaikan tante dari adik ibunya itu.

“Emangnya kalo lagi datang bulan kenapa?”

“Wah, itu jadwalnya dia berubah jadi srigala!”

“Hah? Emang tante lo manusia srigala ya?”

“Hahaha... sadis ya gue?” ujar Tami, “Nggak sih. Gak segalak itu. Cuma gak sebaik kalo dia lagi gak datang bulan aja.”

“Oh...”

Arga mengambil Ponselnya. Mengetik pesan.

Tante lo lagi dtg bln ga, Tam?Sent to: Tami 08567823958

Tampak tulisan di layar ponsel Arga: Message Sent

Gak berapa lama ponsel Arga kembali bergetar. Ada SMS masuk.

Knpa? Lo terlambat y? Ha100x
kyaknya sih jdwlnya dia dtg bln
coz kmaren gw k rmhnya
doi lg mrh2 ma suaminya
ati2 aj dicakar!
Sender: Tami 08567823958
Sent: 26 May 2005 07:00:14

“Huh!” runtuk Arga, “Gara-gara Argi, nih!”

Selepas Subuh tadi, sebenarnya Arga nggak bermaksud tidur lagi. Dia mau berangkat ke sekolah lebih pagi. Melanjutkan belajarnya di sekolah, sebelum ulangan matematika diselenggara pada jam pertama. Arga memang lemah benget di pelajaran hitung-hitungan. Sebenarnya agak-agak alergi. Habis... gue kan orangnya gak peritungan! Begitu dia beralasan. Agak gak nyambung memang.

Tapi waktu Arga mau masuk ke kamar mandi, keburu keduluan Argi. Terpaksa deh harus ngantri. Tahu sendiri si Argi, kalo sudah di kamar mandi bisa betah berjam-jam. Karena terlalu lama nunggu Argi nggak keluar-keluar, Arga ketiduran di depan kamar mandi. Dia baru bangun, waktu Bunda yang mau berangkat ke tempat kerja teriak-teriak di telinganya. Sedang jarum jam telah menunjuk angka 6.45 WIBRTRA (Waktu Indonesia Bagian Ruang Tengah Rumah Arga).

Sebuah sedan berhenti tepat di depan Arga. Pengendara Honda Crivic warna pink metalik itu membuka kaca mobilnya. Melempar senyum ke arah Arga. Arga balas tersenyum.

“Elo...”

“Ketua OSIS SMU Cakra!” kata pengendara itu, seperti tau kalimat yang mau Arga ucapkan, “masih ingat?”

“Oh...” Arga mengangguk-anggukan kepala, “Yang namanya...”

Cowok tampan berkulit putih bersih itu mengulum senyum, “Dava,” katanya menyebutkan namanya.

“Ya, ya... Dava. Gue inget sekarang.”

“Inget apa?”

“Inget kalo...” Arga melirik arloji di tangannya, “Dikit lagi gue terlambat!” Arga panik.

Cowok bernama Dava itu membukakan pintu mobilnya dari dalam. “Bareng aja, yuk!”

“Serius nih?” Arga ragu, “Ongkosnya berapa?”

Dava tertawa mendengar kelekar Arga. “Udah yuk, naik! Tar elo makin terlambat aja!”

Tanpa malu-malu, Arga langsung masuk ke dalam sedan merah yang ruang dalamnya beraroma lemon itu. “Berangkat!”

Lagi lagi cowok itu tertawa melihat tingkah Arga.

Sedan itu bergerak menyusur aspal jalanan. Tapi sampai di pertigaan lampu merah apotik, jalan macet total. Mobil-mobil hanya bisa bergerak tiga putaran roda. Arga kembali gelisah.

“Mobil lo bisa terbang gak?”

“Hah? Terbang gimana?”

“Ya, terbang kaya di film-film. Bisa keluar baling-baling dari atasnya.”

“Hahaha... elo bisa aja, Ga! Emangnya mobil gue Doraemon?” Dava ngakak.

“Jam pertama ada ulangan matematika nih!”

“Udah lo tenang aja.”

Dalam kecemasan, tiba-tiba Arga menangkap suara knalpot yang begitu akrab di telinganya. Dia mencari-cari asal suara. Hah, itu dia!

“Toing!”

Toing menghentikan laju vespa merahnya. Celingukan mencari-cari pemilik suara yang memanggilnya. Arga melambai-lambaikan tangan ke arah Toing.

“Tengkyu ya, Dav,” ucap Arga, membuka pintu mobil, “Selanjutnya biar temen gue si Toing yang menyelamatkan gue.”

“Eh, Ga...” panggil Dava. Terlambat. Arga tidak mendengar. Dia udah keburu menutup pintu mobilnya.

Arga berlari menghampiri vespa Toing, melompat ke boncengan, menepuk pundak Toing, sebelum mengucapkan: “Cabut, Bro!”

Vespa antik itu melaju membelah celah-celah kendaraan yang harus puas merayap tiga putaran roda saja, karena kemacetan yang rupanya telah menjadi bagian dari pemandangan di kota tempat Arga menetap.

Tapi usaha Arga dan Toing itu gak terlalu mendatangkan hasil, sebab mereka baru tiba di sekolah lima menit setelah bel mengudara, dan pintu pagar telah dirapatkan.

Untungnya, Pak Chirex, mantan preman terminal yang sekarang jadi satpam sekolah mereka mengijinkan mereka berdua masuk, setelah Toing berjanji nyomblangin dia sama mpok-nya yang jaga kantin.

Waktu Arga dan Toing sampai di kelas, Bu Nita belum ada di sana. Maka selamatlah mereka berdua dari murka Bu Nita. Dan perjuangan Arga bangun tengah malam buat belajar gak jadi sia-sia.

Hanya saja... mereka harus rela mengikuti proses belajar tanpa mengenakan alas kaki, alias nyeker! Peraturan sekolah mereka memang begitu. Siapa pun yang datang terlambat, walau hanya satu menit sebelum pintu pagar dirapatkan, harus menitipkan sepatunya di kantor satpam!

“Brengsek tuh satpam, padahal udah gue janjiin mau nyomblangin dia sama Mpok gue!” runtuk Toing.

“Ho’oh,” timpal Arga.

“Liat aja,” kata Toing lagi, “gak bakalan deh gue comblangin.”

“Siapa?”

“Satpam itu.”

“Sama?”

“Duh... elo blo’on banget sih! Ya sama mpok gue lah!” Toing keki. Arga ketawa-ketiwi.

Argi ketawa cekikikan melihat Arga dan Toing masuk ke kelas tanpa alas kaki. Arga mengempas tasnya ke atas meja, sebelum melabuhkan tubuhnya di kursi di sebelah Argi.

“Nyeker ni, ye!” ejek Argi.

“Gara-gara lo mandi kelamaan nih!”

“Yee... nyalahin gue, lagi!”

“Bu Nita mana?”

“Gak masuk.”

Arga mengeryitkan dahinya. “Terus ulangannya?”

“Gak jadi. Diundur sampe dia sembuh,” jelas Argi.

“Sumpe lo?”

“Susu tumpe di muke lo!”

“Ye, serius nih!”

“Tadi guru piket yang ngasih pengumumannya. Bu Nita cuma nitip catatan aja.”

Arga menepuk jidatnya. Perjuangannya untuk bisa mengikuti ulangan matematika seperti jadi sia-sia.[]


Share on Google Plus

About Denny Prabowo

Penulis, penyunting, penata letak, pedagang pakaian, dokumentator karya FLP, dan sederet identitas lain bisa dilekatkan kepadanya. Pernah bekerja sebagai Asisten Manajer Buku Sastra di Balai Pustaka. Pernah belajar di jurusan sastra Indonesia Unpak. Denny bisa dihubungi di e-mail sastradenny@gmail.com.

0 ulasan:

Catat Ulasan

Tinggalkan jejak sobat di sini